JBMsex Menyajikan Cerita Sex Tante | Cerita Sex Sedarah | Cerita Sex ABG | Cerita Sex Pemerkosaan | Film dewasa
jbmbet'
Februari 13, 2019 Posted by Tips Hoki No comments Posted in ,
Posted by Tips Hoki on Februari 13, 2019 with No comments | Categories: ,
Cerita Sex,Cerita Bokep,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pemerkosaan,Cerita Sex ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Bikin Sange.Cerita Tante Girang,Cerita Dewasa,Cerita Panas,Crita Nentot SPG,Cerita Sex Pramugari

Bi Tinah sudah cukup lama menjadi pembantu di rumah Tuan Surya. Ini merupakan tahun ketiga ia bekerja di sana. Bi Tinah merasa kerasan karena keluarga Tuan Surya cukup baik memperlakukannya bahkan memberikan lebih dari apa yang diharapkan oleh seorang pembantu. Bi Tinah sadar akan hal ini, terutama akan kebaikan Tuan Surya, yang dianggapnya terlalu berlebihan.

JBMSEX


Cerita Sex Gara Gara Ngintip Bi Tinah Ngentot

JBMSEX - Namun ia tak begitu memikirkannya. Sepanjang hidupnya terjamin, iapun dapat menabung kelebihannya untuk jaminan hari tua. Perkara kelakuan Tuan Surya yang selalu minta dilayani jika kebetulan istrinya tak ada di rumah, itu adalah perkara lain. Ia tak memperdulikannya bahkan ikut menikmati pula.

Walaupun orang kampung, Bi Tinah tergolong wanita yang menarik. Usianya tidak terlalu tua, sekitar 32 tahunan. Penampilannya tidak seperti perempuan desa. Ia pandai merawat tubuhnya sehingga nampak masih sintal dan menggairahkan. Bahkan Tuan Surya sangat tergila-gila melihat kedua payudaranya yang montok dan kenyal. Kulitnya agak gelap namun terawat bersih dan halus. Soal wajah meski tidak tergolong cantik namun memiliki daya tarik tersendiri. Sensual! Begitu kata Tuan Surya saat pertama kali mereka bercinta di belakang dapur suatu ketika.

Dalam usianya yang tidak tergolong muda ini, Bi Tinah janda yang sudah lama ditinggal suami masih memiliki gairah yang tinggi karena ternyata selain berselingkuh dengan majikannya, ia pernah bercinta pula dengan Kang Asep, Satpam penjaga rumah.

Perselingkuhannya dengan Kang Asep berawal ketika ia lama ditinggalkan oleh Tuan Surya yang sedang pergi ke luar negeri selama sebulan penuh. Selama itu pula Bi Tinah merasa kesepian, tak ada lelaki yang mengisi kekosongannya. Apalagi di saat itu udara malam terasa begitu menusuk tulang. Tak tahan oleh gairahnya yang meletup-letup, ia nekat menggoda Satpam itu untuk diajak ke atas ranjangnya di kamar belakang.

Malam itu, Bi Tinah kembali tak bisa tidur. Ia gelisah tak menentu. Bergulingan di atas ranjang. Tubuhnya menggigil saking tak tahannya menahan gelora gairah seksnya yang menggebu-gebu.

Malam ini ia tak mungkin menantikan kehadiran Tuan Surya dalam pelukannya karena istrinya ada di rumah. Perasaannya semakin gundah kala membayangkan saat itu Tuan Surya tengah menggauli istrinya. Ia bayangkan istrinya itu pasti akan tersengal-sengal menghadapi gempuran Tuan Surya yang memiliki ’senjata’ dahsyat. Bayangan batang kontol Tuan Surya yang besar dan panjang itu serta keperkasaannya semakin membuat Bi Tinah nelangsa menahan nafsu syahwatnya sendiri. Sebenarnya terpikir untuk memanggil Kang Asep untuk menggantikannya namun ia tak berani selama majikannya ada di rumah.

Kalau ketahuan hancur sudah akibatnya nasib mereka nantinya. Akhirnya Bi Tinah hanya bisa mengeluh sendiri di ranjang sampai tak terasa gairahnya terbawa tidur.
Dalam mimpinya Bi Tinah merasakan gerayangan lembut ke sekujur tubuhnya. Ia menggeliat penuh kenikmatan atas sentuhan jemari kekar milik Tuan Surya. Menggerayang melucuti kancing baju tidurnya hingga terbuka lebar, mempertontonkan kedua buah dadanya yang mengkal padat berisi. Tanpa sadar Bi Tinah mengigau sambil membusungkan dadanya.
“Remas.. uugghh.. isep putingnya.. aduuhh enaknya..”

Baca Juga : Cerita Sex Pulang Dugem Dapat Ngentot Cewek Mabok


Kedua tangan Bi Tinah memegang kepala itu dan membenamkannya ke dadanya. Tubuhnya menggeliat mengikuti jilatan di kedua putingnya. Bi Tinah terengah-engah saking menikmati sedotan dan remasan di kedua payudaranya, sampai-sampai ia terbangun dari mimpinya.

Perlahan ia membuka kedua matanya sambil merasakan mimpinya masih terasa meski sudah terbangun. Setelah matanya terbuka, ia baru sadar bahwa ternyata ia tidak sedang mimpi. Ia menengok ke bawah dan ternyata ada seseorang tengah menggumuli bukit kembarnya dengan penuh nafsu. Ia mengira Tuan Surya yang sedang mencumbuinya.

Dalam hati ia bersorak kegirangan sekaligus heran atas keberanian majikannya ini meski sang istri ada di rumah. Apa tidak takut ketahuan. Tiba-tiba ia sendiri yang merasa ketakutan. Bagaimana kalau istrinya datang?

Bi Tinah langsung bangkit dan mendorong tubuh yang menindihnya dan hendak mengingatkan Tuan Surya akan situasi yang tidak memungkinkan ini. Namun belum sempat ucapan keluar, ia melihat ternyata orang itu bukan Tuan Surya?! Yang lebih mengejutkannya lagi ternyata orang itu tidak lain adalah Wendy, putra tunggal majikannya yang masih berumur 15 tahunan!?

“Den Wendy?!” pekiknya sambil menahan suaranya.
“Den ngapain di kamar Bibi?” tanyanya lagi kebingungan melihat wajah Wendy yang merah padam.
Mungkin karena birahi bercampur malu ketahuan kelakuan nakalnya.
“Bi.. ngghh.. anu.. ma-maafin Wendy..” katanya dengan suara memelas.

Kepalanya tertunduk tak berani menatap wajah Bi Tinah.

“Tapi.. barusan nga.. ngapain?” tanyanya lagi karena tak pernah menyangka anak majikannya berani berbuat seperti itu padanya.
“Wendy.. ngghh.. tadinya mau minta tolong Bibi bikinin minuman..” katanya menjelaskan.
“Tapi waktu liat Bibi lagi tidur sambil menggeliat-geliat. . ngghh.. Wendy nggak tahan..” katanya kemudian.

“Oohh.. Den Wendy.. itu nggak boleh. Nanti kalau ketahuan Papa Mama gimana?” Tanya Bi Tinah.
“Wendytahu itu salah.. tapi.. ngghh..” jawab Wendy ragu-ragu.
“Tapi kenapa?” Tanya Bi Tinah penasaran
“Wendypengen kayak Kang Asep..” jawabnya kemudian.

JBMBET

Kepala Bi Tinah bagaikan disamber geledek mendengar ucapan Wendy. Berarti dia tahu perbuatannya dengan Satpam itu, kata hatinya panik. Wah bagaimana ini?

“Kenapa Den Wendy pengen itu?” tanyanya kemudian dengan lembut.
“Wendysering ngebayangin Bibi.. juga.. ngghh.. anu..”
“Anu apa?” desak Bi Tinah makin penasaran.
“Wendysuka ngintip.. Bibi lagi mandi,” akunya sambil melirik ke arah pakaian tidur Bi Tinah yang sudah terbuka lebar.

Wendy melenguh panjang menyaksikan bukit kembar montok yang menggantung tegak di dada pengasuhnya itu. Bi Tinah dengan refleks merapikan bajunya untuk menutupi dadanya yang telanjang. Kurang ajar mata anak bau kencur ini, gerutu Bi Tinah dalam hati. Nggak jauh beda dengan Bapaknya. mau dapat bonus setiap hari?

“Boleh khan Bi?” kata Wendy kemudian.
“Boleh apa?” sentak Bi Tinah mulai sewot.
“Boleh itu.. ngghh.. anu.. kayak tadi..” pinta Wendy tanpa rasa bersalah seraya mendekati kembali Bi Tinah.
“Den Wendy jangan kurang ajar begitu sama perempuan.., ” katanya seraya mundur menjauhi anak itu. “Nggak boleh!”

“Kok Kang Asep boleh? Nanti Wendy bilangin lho..” kata Wendy mengancam.
“Eh jangan! Nggak boleh bilang ke siapa-siapa. .” kata Bi Tinah panik.
“Kalau gitu boleh dong Wendy?”

Kurang ajar bener anak ini, berani-beraninya mengancam, makinya dalam hati. Tapi bagaimana kalau ia bilang-bilang sama orang lain. Oh Jangan. Jangan sampai! Bi Tinah berpikir keras bagaimana caranya agar anak ini dapat dikuasai agar tak cerita kepada yang lain. Bi Tinah lalu tersenyum kepada Wendy seraya meraih tangannya.

“Den Wendy mau pegang ini?” katanya kemudian sambil menaruh tangan Wendy ke atas buah dadanya. casino online

“Iya.. ii-iiya..,” katanya sambil menyeringai gembira.
Wendy meremas kedua bukit kembar milik Bi Tinah dengan bebas dan sepuas-puasnya. “Gimana Den.. enak nggak?” Tanya Bi Tinah sambil melirik wajah anak itu.

“Tampan juga anak ini, walau masih ingusan tapi ia tetap seorang lelaki juga”, pikir Bi Tinah.
Bukankah tadi ia merindukan kehadiran seorang lelaki untuk memuaskan rasa dahaga yang demikian menggelegak? Mungkin saja anak ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tetapi dari pada tidak sama sekali?

Setelah berpikiran seperti itu, Bi Tinah menjadi penasaran. Ingin tahu bagaimana rasanya bercinta dengan anak di bawah umur. Tentunya masih polos, lugu dan perlu diajarkan. Mengingat ini hal Bi Tinah jadi terangsang. Keinginannya untuk bercinta semakin menggebu-gebu. Kalau saja lelaki ini adalah Tuan Surya, tentunya sudah ia terkam sejak tadi dan menggumuli batang kontolnya untuk memuaskan nafsunya yang sudah ke ubun-ubun. Tapi tunggu dulu. Ia masih anak-anak. Jangan sampai ia kaget dan malah akan membuatnya ketakutan.

Lalu ia biarkan Wendy meremas-remas buah dadanya sesuka hati. Dadanya sengaja dibusungkan agar anak ini dapat melihat dengan jelas keindahan buah dadanya yang paling dibanggakan. Wendy mencoba memilin-milin putingnya sambil melirik ke wajah Bi Tinah yang nampak meringis seperti menahan sesuatu.

“Sakit Bi?” tanyanya.
“Nggak Den. Terus aja. Jangan berhenti. Ya begitu.. terus sambil diremas.. uugghh..”
Wendy mengikuti semua perintah Bi Tinah. Ia menikmati sekali remasannya. Begitu kenyal, montok dan oohh asyik sekali! Pikir Wendy dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin mencium buah dada itu dan mengemot putingnya seperti ketika ia masih bayi. bandar sabung ayam

Bi Tinah terperanjat akan perubahan ini sekaligus senang karena meski sedotan itu tidak semahir lelaki dewasa tapi cukup membuatnya terangsang hebat. Apalagi tangan Wendy satunya lagi sudah mulai berani mengelus-elus pahanya dan merambat naik di balik baju tidurnya. Perasaan Bi Tinah seraya melayang dengan cumbuan ini. Ia sudah tak sabar menunggu gerayangan tangan Wendy di balik roknya segera sampai ke pangkal pahanya. Tapi nampaknya tidak sampai-sampai. Akhirnya Bi Tinah mendorong tangan itu menyusup lebih dalam dan langsung menyentuh daerah paling sensitive. Bi Tinah memang tak pernah memakai pakaian dalam kalau sedang tidur. “Tidak bebas”, katanya.
Wendy terperanjat begitu jemarinya menyentuh daerah yang terasa begitu hangat dan lembab. Hampir saja ia menarik lagi tangannya kalau tidak ditahan oleh Bi Tinah.

“Nggak apa-apa.. pegang aja.. pelan-pelan. . ya.. terus.. begitu.. ya.. teruusshh.. uggh Den enaak!”
Wendy semangat mendengar erangan Bi Tinah yang begitu merangsang. Sambil terus mengemot puting susunya, jemarinya mulai berani mempermainkan bibir kemaluan Bi Tinah. Terasa hangat dan sedikit basah. Dicoba-cobanya menusuk celah di antara bibir itu. Terdengar Bi Tinah melenguh. Wendy meneruskan tusukannya. Cairan yang mulai rembes di daerah itu membuat jari Wendy mudah melesak ke dalam dan terus semakin dalam.

“Akhh.. Den masukin terusshh.. ya begitu. Oohh Den Wendy pinter!” desah Bi Tinah mulai meracau ucapannya saking hebatnya rangsangan ke sekujur tubuhnya.
Sambil terus menyuruh Wendy berbuat ini dan itu. Tangan Bi Tinah mulai menggerayang ke tubuh Wendy. Pertama-tama ia lucuti pakaian atasnya kemudian melepaskan ikat pinggangnnya dan langsung merogoh ke balik celana dalam anak itu.

“Mmmpphh..”, desah Bi Tinah begitu merasakan batang kontol anak itu sudah keras seperti baja.
Ia melirik ke bawah dan melihat batang Wendy mengacung tegang sekali. Boleh juga anak ini. Meski tidak sebesar bapaknya, tapi cukup besar untuk ukuran anak seumurnya. Tangan Bi Tinah mengocok perlahan batang itu. Wendy melenguh keenakan.
“Oouhhgghh.. Bii.. uueeanaakkhh! ” pekik Wendy perlahan.

Bi Tinah tersenyum senang melihatnya. Anak ini semakin menggemaskan saja. Kepolosan dan keluguannya membuat Bi Tinah semakin terangsang dan tak tahan menghadapi emotan bibirnya di puting susunya dan gerakan jemarinya di dalam liang memeknya. Rasanya ia tak kuat menahan desakan hebat dari dalam dirinya. Tubuhnya bergetar.. lalu.., Bi Tinah merasakan semburan hangat dari dalam dirinya berkali-kali. Ia sudah orgasme. Heran juga. Tak seperti biasanya ia secepat itu mencapai puncak kenikmatan. Entah kenapa. Mungkin karena dari tadi ia sudah terlanjur bernafsu ditambah pengalaman baru dengan anak di bawah umur, telah membuatnya cepat orgasme.

Wendy terperangah menyaksikan ekspresi wajah Bi Tinah yang nampak begitu menikmatinya. Guncangan tubuhnya membuat Wendy menghentikan gerakannya. Ia terpesona melihatnya. Ia takut malah membuat Bi Tinah kesakitan.

“Bi? Bibi kenapa? Nggak apa-apa khan?” tanyanya demikian polos.
“Nggak sayang.. Bibi justru sedang menikmati perbuatan Den Wendy,” demikian kata Bi Tinah seraya menciumi wajah tampan anak itu.

Dengan penuh nafsu, bibir Wendy dikulum, dijilati sementara kedua tangannya menggerayang ke sekujur tubuh anak muda ini. Wendy senang melihat kegarangan Bi Tinah. Ia balas menyerang dengan meremas-remas kedua payudara pengasuhnya ini, lalu mempermainkan putingnya.
“Aduh Den.. enak sekali. Den Wendy pinter.. uugghh!” erang Bi Tinah kenikmatan.

Bi Tinah benar-benar menyukai anak ini. Ia ingin memberikan yang terbaik buat majikan mudanya ini. Ingin memberikan kenikmatan yang tak akan pernah ia lupakan. Ia yakin Wendy masih perjaka tulen. Bi Tinah semakin terangsang membayangkan nikmatnya semburan cairan mani perjaka. Lalu ia mendorong tubuh Wendy hingga telentang lurus di ranjang dan mulai menciuminya dari atas hingga bawah. Lidahnya menyapu-nyapu di sekitar kemaluan Wendy. Melumat batang yang sudah tegak bagai besi tiang pancang dan megulumnya dengan penuh nafsu.

Tubuh Wendy berguncang keras merasakan nikmatnya cumbuan yang begitu lihai. Apalagi saat lidah Bi Tinah mempermainkan biji pelernya, kemudian melata-lata ke sekujur batang kemaluannya. Wendy merasakan bagian bawah perutnya berkedut-kedut akibat jilatan itu. Bahkan saking enaknya, Wendy merasa tak sanggup lagi menahan desakan yang akan menyembur dari ujung moncong kemaluannya. Bi Tinah rupanya merasakan hal itu. Ia tak menginginkannya. Dengan cepat ia melepaskan kulumannya dan langsung memencet pangkal batang kemaluan Wendy sehingga tidak langsung menyembur. agen judi online

“Akh Bi.. kenapa?” Tanya Wendy bingung karena barusan ia merasakan air maninya akan muncrat tapi tiba-tiba tidak jadi.

“Nggak apa-apa. Tenang saja, Den. Biar tambah enak,” jawabnya seraya naik ke atas tubuh Wendy.
Dengan posisi jongkok dan kedua kaki mengangkang, Bi Tinah mengarahkan batang kontol Wendy persis ke arah liang mem*knya. Perlahan-lahan tubuh Bi Tinah turun sambil memegang kontol Wendy yang sudah mulai masuk.

“Uugghh.. enak nggak Den?”
“Aduuhh.. Bi Tinah.. sedaapphh..! ” pekiknya.

Wendy merasakan batang kontolnya seperti disedot liang memek Bi Tinah. Terasa sekali kedutan-kedutannya. Ia lalu menggerakan pantatnya naik turun. Konotlnya bergerak ceapt keluar masuk liang nikmat itu. Bi Tinah tak mau kalah. Pantatnya bergoyang ke kanan-kiri mengimbangi tusukan kontol Wendy.

“Auugghh Deenn..uueennaakk! ” jerit Bi Tinah seperti kesetanan.
“Terus Den, jangan berhenti. Ya tusuk ke situ.. auughgg.. aakkhh..”
Wendy mempercepat gerakannya karena mulai merasakan air maninya akan muncrat.
“Bi.. saya mau keluaarr..” Jeritnya.
“Iya Den.. ayo.. keluarin aja. Bibi juga mau keluar.. ya terusshh.. oohh teruss..” katanya tersengal-sengal.

Wendy mencoba bertahan sekuat tenaga dan terus menggenjot liang memek Bi Tinah dengan tusukan bertubi-tubi sampai akhirnya kewalahan menghadapi goyangan pinggul wanita berpengalaman ini. Badannya sampai terangkat ke atas dan sambil memeluk tubuh Bi Tinah erat-erat, Wendy menyemburkan cairan kentalnya berkali-kali.

“Crot.. croott.. crott!”
“Aaakkhh..” Bi Tinah juga mengalami orgasme.
Sekujur tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan erat Wendy.
“Ooohh.. Deenn.. hebat sekali..”

Kedua insan yang tengah lupa daratan ini bergulingan di atas ranjang merasakan sisa-sisa akhir dari kenikmatan ini. Nafas mereka tersengal-sengal. Peluh membasahi seluruh tubuh mereka meski udara malam di luar cukup dingin. Nampak senyum Bi Tinah mengembang di bibirnya. Penuh dengan kepuasan. Ia melirik genit kepada Wendy.
“Gimana Den. Enak khan?”

“Iya Bi, enak sekali,” jawab Wendy seraya memeluk Bi Tinah.
Tangannya mencolek nakal ke buah dada Bi Tinah yang menggelantung persis di depan mukanya.
“Ih Aden nakal,” katanya semakin genit.
Tangan Bi Tinah kembali merayap ke arah batang kontol Wendy yang sudah lemas. Mengelus-elus perlahan hingga batang itu mulai memperlihatkan kembali kehidupannya.
“Bibi isep lagi ya Den?”

Wendy hanya bisa mengangguk dan kembali merasakan hangatnya mulut Bi Tinah ketika mengulum kontolnya. Mereka kembali bercumbu tanpa mengenal waktu dan baru berhenti ketika terdengar kokok ayam bersahutan. Wendy meninggalkan kamar Bi Tinah dengan tubuh lunglai. Habis sudah tenaganya karena bercinta semalaman. Tapi nampak wajahnya berseri-seri karena malam itu ia sudah merasakan pengalaman yang luar biasa.

Cerita Sex,Cerita Bokep,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pemerkosaan,Cerita Sex ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Bikin Sange.Cerita Tante Girang,Cerita Dewasa,Cerita Panas,Crita Nentot SPG,Cerita Sex Pramugari

0 komentar:

JBM