JBMsex Menyajikan Cerita Sex Tante | Cerita Sex Sedarah | Cerita Sex ABG | Cerita Sex Pemerkosaan | Film dewasa
jbmbet'
Februari 24, 2019 Posted by Tips Hoki No comments Posted in
Posted by Tips Hoki on Februari 24, 2019 with No comments | Categories:
Cerita Sex,Cerita Bokep,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pemerkosaan,Cerita Sex ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Bikin Sange.Cerita Tante Girang,Cerita Dewasa,Cerita Panas,Crita Nentot SPG,Cerita Sex Pramugari

Bangun tidur sore itu… tidak membuat Felix menjadi bugar, seperti layaknya orang bangun tidur. Bayangkan… 2 malam begadang di puncak Merapi. Sebagai anggota pencinta alam, kampusnya ditugaskan untuk mencari beberapa anak SMK pendaki yang hilang di Merapi. Cuaca buruk begini nekat mendaki gunung, kutuknya dalam hati. Di dekapnya kedua kaki mengusir dingin di atas bangku teras depan kosnya, cuaca hujan rintik-rintik

Cerita Sex Terpanas Dingin Saat Hujan Membangkitkan Hasratku


Cerita Sex Terpanas Dingin Saat Hujan Membangkitkan Hasratku


Cerita Sex Terpanas - Memang cuaca bulan Desember membuat segalanya menjadi basah, termasuk beberapa potong celana jeans belelnya yang kemungkinan hanya di bulan Desember ini bertemu dengan yang namanya air, dua potong CD pun ikut basah akibat dicucinya tadi pagi. Benar2 hari yang menyiksa bagi Felix, sudah dingin cuaca… tanpa CD pula. Sepotong kain sarung yang lumayan kering cukuplah menghangatkan tubuh cekingnya sore itu.Agen Poker

Tempat kos Felix cukup strategis, walaupun bangunan peninggalan Belanda, tetapi letaknya terpisah dari perkampungan, karena dikelilingi oleh tembok tinggi. Ibarat memasuki sebuah benteng pada jaman dahulu, letak kamar kos-kosan disekeliling bangunan utama yang di jadikan sekolah negeri. Suasana sekitar kos-kosan memang sedang sepi… penghuninya banyak yang pulang kampung, maklum liburan. Sementara sebagian kamar dijadikan asrama sekolah yang juga kosong ditinggal penghuninya liburan, praktis Felix merasa sebagai penjaga kosan, umpatnya dalam hati.

“Mas… jamu mas…” sapa tukang jamu gendongan membuyarkan lamunan Felix.
“Eh embak… ujan-ujan ngagetin orang lagi ngelamun aja” sewot Felix.
“Masnya ini lho… ujan-ujan kok ngelamun… tuh jemuran gak diangkat…” tanya mbak jamu sambil berjalan menghampiri beranda di mana Felix duduk.
“Emang sengaja mbak… sekalian kena air” jawab Felix sekenanya.
“Lho… kan sayang udah di cuci tapi kehujanan” kata mbak jamu keheranan.
“belum kok, belum di cuci” elak Felix.
“Lha… kok aneh” protes mbak jamu,
“sekalian dicuciin sama ujan” saut Felix.
“Dah laku jamunya mbak? tanya Felix di sela-sela gerimis.
“Yah belum banyak sih, makanya mbok dibeli mas jamunya” pinta mbak Jamu memelas.
“Emang jualan jamu apa aja sih mbak” selidik Felix sambil membenahi sarungnya.
“Ya macem-macem, ada galian singset, sari rapet, kunir asem, sehat lelaki, pokoknya banyak deh, dan semuanya hasil meracik sendiri lho mas” bangga mbak jamu sembari membersihkan air di sekitar kaki dan kainnya.
“Kalo badan pegel-pegel, jamunya apa mbak?” tanya Felix,
“Ada tolak angin” seru mbak jamu.
“Ah… kalo aku biasa di kerokin mbak, kalo minum jamu doang kurang marem” kata Felix.
“Mbaknya bisa ngerokin saya?” goda Felix,
“Emang situ mau saya kerokin” kerling mbak jamu malu-malu. Felix hanya tersenyum saja.
“Ngomong-ngomong… namanya siapa sih mbak” tanya Felix.
“Saya Tini mas” jawabnya tersipu. Kalo di perhatikan… manis juga nih cewek… mana putih lagi kulitnya, gumam hati Felix.
“Kalo mas siapa namanya?” tanya Tini membuyarkan lamunan Felix.
“Saya Felix mbak” jawab Felix gugup. Keduanya bersalaman, gila… alus juga nih cewek tangannya, bathin Felix.
“Gimana mas Felix, mau saya kerokin?” tantang Tini memancing.
“Bener bisa ngerokin nih?” tanya Felix antusias.
“Boleh” jawab Tini senyum.
“Tapi jangan di sini ya, bawa masuk aja sekalian bakulnya mbak” kata Felix sambil bangkit berdiri menyilahkan Tini masuk ke dalam kos-kosan.
“Wah kos-kosannya bagus ya mas, ada ruang tamunya segala, ini kamar siapa aja mas kok ada tiga? selidik Tini sembari meletakkan bakulnya di pojok dekat bufet.
“Kamar temen, cuman mereka pada pulang kampung, tinggal saya sendiri jaga kos” jawab Aton.
“Kamar mas Felix sebelah mana” tanya Tini,
“Itu mbak, paling pojok, paling gelap” kata Felix.
“Ih ngeri ah… gelap-gelapan” goda Tini genit.
“Gak pa pa kok… aku dah jinak” canda Felix sembari mengajak Tini menuju ke dalam kamarnya.
“Kok sepi mas?” selidik Tini sembari melihat ke kiri kanan. “Rumah sebelah juga pulang kampung sekeluarga, makanya sepi” jawab Felix.
“Kamar mandinya di mana mas, aku mau cuci kaki dulu” tanya Tini.
“Itu di depan kamarku jawab Felix sembari membereskan tempat tidurnya yang berantakan.

Baca Juga : Cerita Sex Terpanas Penyanyi Cafe Yang memanjakan Kontolku


Felix merebahkan badannya telungkup di atas kasur tanpa dipan, sementara Tini mengambil minyak gosok serta uang benggol untuk kerokan. “Mbak, jangan pake minyak ah… aku gak tahan bau dan panasnya” cegah Felix. “Trus pake apa dong mas? tanya Tini bingung. Felix berdiri menuju meja rias, diambilnya sebotol Hand Body dan di berikannya kepada Tini. “Pake ini aja mbak.. wangi lagi” senyum Felix.

Kemudian Tini mengambil posisi duduk di sebelah Felix, disingkapkannya kain batik yg dikenakannya sehingga tampaklah betis mulus Tini. Wah mulus juga, mana banyak bulu halusnya nih tukang jamu sorak hati Felix. Tangan yang menempel di punggung Felix juga dirasa lembut dan halus oleh Felix. “Umurnya berapa mbak” tanya Felix memecah keheningan mereka berdua. “Dua enam bulan besok mas” jawab Tini. “Beda dua tahun di atas dong dengan saya” kata Felix sembari meringis kesakitan. “udah rumah tangga mbak?” kejar Felix. “Pisahan mas, suami saya kabur gak tanggung jawab” kata Tini. “Lho kenapa?” sambung Felix penasaran.

“Kecantol janda sebelah kampung” ungkap Tini cuek.
“Waduh… laki-laki bodoh tuh… sela Felix sembarangan.
“Emangnya kenapa mas?” penasaran Tini.
“Gimana gak bodoh, punya istri manis, putih dan sintal kayak gini kok di sia-siakan” rayu Felix.
“Ah… mas Felix bisa aja” jawab Tini masuk dalam perangkap Felix, sembari mencubit pinggang lelaki itu.
“Eh… geli ah mbak…” jerit Felix sedikit mengelinjang.
“Laki-laki kok gelian… ceweknya cantik tuh…” goda Tini.
“Nggak cuman cantik… tapi banyak juga mbak” sombong Felix.
“Huh… dasar… laki-laki…” cemberut Tini.
“Mbak… tadi jamunya apa aja?” tanya Felix kemudian setelah adegan kerokan di punggungnya selesai.
“Kalo buat kondisi mas Felix sekarang… minum Sehat Lelaki” jawab Tini, “Kasiatnya apa aja mbak?” kejar Felix. “Selain ngilangin masuk angin, supaya badan gak lemes dan mudah loyo” jawab Tini.
“Mudah loyo…? maksudnya apa…? tanya Felix kemudian.
“Ih masnya ini lho… kayak gak tau aja…” jawab Tini malu-malu. Felix memutar badannya, sekarang dia telentang menghadap Tini yang masih duduk terpaku,
“Sungguh… saya gak tau mbak” aku Felix.
Tini memalingkan wajahnya, terlihat semu merah di pipi Tini yang menambah manis rona wajahnya.
“Itu lho… buat pasangan suami istri kalo mau melakukan hubungan…” jawab Tini tersipu.
“Hubungan…? hubungan apa…?” tanya Felix dengan muka bloonnya.
“Ahhh… mas Felix ini lho… ya hubungan suami istri” jawab Tini sembari mencubit lengan Felix.
“Bagi yang punya pasangan… kalo kayak aku gimana…? siapa pasanganku ya…?” kerling Felix menantang Tini. Tini sendiri membuang mukanya, tetapi Felix menangkap semu merah di wajah Tini.

Tini bangkit mengambil bakul yang tertinggal di ruang tamu, sekembalinya dia bertanya lagi kepada Felix,

“Jadi nggak… jamu Sehat Lelakinya mas?” tanyanya kepada Felix.
“Sini dulu dong…” jawab Felix sembari tangannya mempersilahkan Tini untuk duduk di sampingnya lagi.
“Kalo aku jadi minum… terus bereaksi… buat membuktikannya gimana kalo jamu buatan mbak itu benar-benar berkhasiat” goda Felix.
“Ya sama pacarnya dong… maunya sama sapa?” pancing Tini gantian.
“Gimana kalo sama mbak aja… soalnya pacar yang mana juga bingung aku” tembak Felix sekenanya.
“Jangan ah… entar kedengeran sama tetangga lho” jawab Tini tanpa nada penolakan.

Kemudian Tini mengambil botol dari bakul dan meracik ramuan Sehat Lelaki. Felix bangkit dari tidurnya kemudian mendekati tempat Tini duduk, dibelainya kepala gadis itu dengan lembut.

“Jangan mas… genit ah… entar aku teriak lho” ancam Tini jinak-jinak merpati.
“Teriak aja… paling gak ada yang keluar… orang ujan-ujan begini… pada males orang keluar” tantang Aton. Kemudian belaian Felix turun ke pipi Tini terus ke leher jenjangnya.
“Masss… geli ahh.. entar tumpah nih gelasnya” ancam Tini.
“Kamu cantik lho mbak… kok bodoh sekali ya bekas suamimu itu” rayu Felix,
“Soalnya janda itu kaya mas… sementara aku kan cuma orang desa yang gak punya apa-apa” jawab Tini sembari memberikan gelas berisi ramuan jamu kepada Felix.
“Nih… minum dulu ramuannya… ditanggung ces pleng…” jawab Tini tanpa di sadari.
“Hee… berarti mau dong ngebuktiin khasiatnya” tembak Felix setelah meminum habis ramuan jamu tersebut.
“Eh… ya nggak gitu… nyobanya gak sama aku” elak Tini merasa di tembak Felix.
“Sekarang pijitin bagian depannya dong mbak, khan gak imbang kalo cuma belakangnya aja yang di garap” pinta Felix. “Depannya minta di kerok sekalian mas?” tanya Tini. “Nggak usah di kerok… pijitin aja” kata Felix.

Pijitan Tini di dada Felix, kembali membuat pemberontakan adiknya di dalam sarung. Tangan kanan Felix kembali meraba pipi halus Tini, wanita itu terdiam. Kemudian Felix menelusuri rabaan mulai turun ke leher Tini, perlahan tapi pasti dibukanya kancing kebaya Tini, Tini menoleh ke samping, dadanya bergemuruh, dirasakan semua bulu kuduknya berdiri, sensasi ini telah lama ia rindukan, semenjak bercerai dengan suaminya setahun lalu, tidak ada tangan laki-laki lain yang menyentuh tubuh sintalnya.

Felix merasakan deru nafas Tini yang mulai tidak teratur, dalam hati Felix bersorak… kena lo sekarang…! Dirabanya bukit kembar satu persatu. Felix tidak mau terburu-buru, diraba dengan bra yang masih terpasang. Rona wajah Tini semakin nyata, “Masss… jaaangaannnn… mass… nanti dilihat orang” erang Tini sembari menahan gejolak dalam dirinya tanpa menepis tangan Felix. Felix tidak menjawab, perlahan di bukanya kebaya Tini mulai dari pundak.

Tini mencoba untuk menahan tangan Felix, kemudian Felix bangkit dari tidurannya, Tini memiringkan wajahnya seolah takut berhadapan dengan wajah Felix yang tinggal beberapa senti lagi darinya. Felix meraih dagu wanita itu, perlahan dipalingkan wajah Tini tepat dihadapannya, kemudian Felix mendekatkan bibirnya mengecup bibir Tini, Wanita itu menolak, tetapi hanya sesaat, kedua tangan Felix memegang pundak wanita itu dan dilanjutkannya mengecup bibirnya, bergetar bibir wanita itu dirasa menambah nafsu Felix, perlahan dibukanya bibir itu dan dikulumnya lidah wanita itu, terlihat Tini mulai menikmatinya sambil memejamkan mata.

Kedua tangan Felix menurunkan kebaya yang dipakai Tini, tanpa perlawanan lagi. Sembari mereka saling berpagutan, dicarinya pengait bra di punggung wanita itu dan berhasil dibukanya, perlahan diturunkannya tali di atas pundaknya ke samping dan turun ke bawah. Felix terhenyak tanpa melepaskan pagutannya, bukit kembar wanita itu masih kencang, bulat dan mengacung putingnya menantang, kemudian dirabanya kedua bukit itu disertai erangan kecil Tini. situs judi online terpercaya

agen judi online terpercaya

“Masss… aku takuuutt…” erang Tini.
“Sssstttt… enggak pa pa kok… nikmatin aja ya sayang” ujar Felix menenangkan wanita itu.

Kemudian Felix mengambil tangan kiri Tini yang kemudian diletakkannya di atas sarung tepat di senjata Felix.

“Mass… gak pake celana dalam ya…?” tanya Tini sembari mengelusnya dari luar sarung.

Felix hanya tersenyum, kemudian diapun berusaha untuk melepaskan kain yang masih dikenakan Tini. Setelah kain terlepas… Felix tidak dapat menahan gelinya, “Kamu juga gak pake daleman ya…? tanya Felix dengan geli.

“Memang rata-rata tukang jamu itu tidak memakai celana dalam mas” jawab Tini ketus, giliran Felix yang kaget dan melongo… Gila!!! Perlahan ditatapnya wajah Tini, perlahan tapi pasti tangan Felix merenguh bahu wanita itu dan perlahan-lahan merebahkannya ke lantai.

Felix mulai meraba kedua bukit kembar Tini, sementara wanita itu memalingkan wajahnya menghindar tatapan Felix, di pegangnya tangan Felix tetapi tidak bermaksud untuk melarang. Felix memang pandai memanjakan wanita, walau dirasa tubuh wanita itu sedikit berbau ramuan jamu, tidak mengurangi nafsu Felix untuk kemudian menjilatinya. Dimulai dari leher jenjang wanita itu, kemudian perlahan turun pada dua bukit kembar, kembali lidah Felix menyelusuri gundukan bukit itu satu persatu yang diakhiri dengan sedotan diujung putingnya.

Terdengar erangan wanita seperti kepedesan, kedua tangannya telah beralih ke rambut gondrong Aton dengan sedikit jambakan. Lidah Felix meneruskan gerilyanya, turun ke arah pusar Tini, terlihat Tini demikian menikmatinya, kegiatan yang tidak pernah dilakukan suaminya dahulu, karena suaminya hanya memaksa bila ingin dipenuhi kebutuhan sahwatnya tanpa Tini merasakan nikmatnya berhubungan insan berlainan jenis.

Tangan Felix kembali meremas bukit kembar Tini, sementara jilatan Felix telah mendekati sasaran di sarang kenikmatan Tini. Luar biasa… bulu kemaluan Tini demikian lebatnya, menambah sensasi tersendiri buat Felix. “Eh… masss… mau ngapaiiinn…? selidik Tini di atas sana.

Felix tidak menjawab, tangan kanannya berusaha menyingkap bulu lebat Tini untuk menemukan kenikmatan gadis itu.

“Jangan masss… kotooorrr… achhh…” erang Tini menahan gejolak yang untuk pertama kali dirasakan sensasi itu.

Felix hanya melirik ke atas, dilihatnya mata wanita itu terpejam kenikmatan.

“Masss… ediaaannn… uenakeee… ssshhh… aaahhh… emmmhhh masss…” jerit tertahan Tini sembari menjambak rambut Felix.

Lidah Felix menemukan klitoris Indah, dijilat, dipluntir dan sesekali dihisap lembut, sehingga tak lama membuat Tini kelojotan.

“Masss… gak kuaaat… mauuu pipp pisss…” teriak Tini sambil berusaha menyingkirkan kepala Felix dari kemaluannya.

Felix menolak dan semakin kuat membenamkan wajahnya kedalam kemaluan Tini.

Tak lama kemudian Felix merasa kalau kepalanya sedikit sakit akibat jepitan paha Tini, tetapi di tahannya, karena Felix tahu bahwa wanita ini mengalami orgasme yang teramat hebat dan dahsyatnya. bandar poker terpercaya

“Achhh… emmmhhh… masss…sss…sss acchhh…” jerit tertahan Indah mengiringi orgasme yang baru sekali ini dialaminya, seolah copot semua persendian di tubuhnya. Sensasi apa ini, yang tak mampu dicapai oleh pikirannya, karena tidak pernah di dapat dari mantan suaminya dulu. Tini terkapar kelelahan,

Felix memeluknya, dielusnya rambut dan pipi Tini, sementara Tini kehabisan nafas, seakan habis puluhan kilometer dia lari…

“Gimana rasanya mbak?” tanya Felix beberapa saat kemudian setelah Tini terlihat telah dapat mengatur nafasnya. “Masss… tadi itu rasanya seperti apa ya…? tanya Tini kebingungan disela nafas yang masih tersengal.
“Sssst… sudah tak usah diungkapkan… pokoknya dirasain aja ya…” jawab Felix menenangkan Tini.

Beberapa saat kemudian Tini telah normal kembali pernafasannya dan bangkit duduk di samping Felix. “Kok mas gak jijik sih nyiumin pepekku” tanya Tini yang membahasakan kemaluannya dengan pepek. Felix tidak menjawab, malah dia bertanya pada Tini

“Tini  bener… belum pernah merasakan seperti tadi ya?”
“Bener mas, soalnya suami Tini itu Peltu” jawab Tini.
“Peltu??? emangnya suami Tini itu aparat?” goda Felix.
“Bukan… nempel metu…” jawab Tini tersipu.
“Ha… ha… ha…” tawa renyah Felix.

Tini sudah tidak malu-malu lagi, perlahan tangan kanannya meraih senjata Felix yang masih tegak berdiri,

“Mas… punyanya kok panjang begini ya” tanya Tini sembari mengelus senjata Felix. Felix tersenyum, diberinya ruang untuk Tini dapat sepenuhnya menikmati senjata Felix.

agen judi online terpercaya

Kemudian perlahan dan agak ragu, Tini mendekati senjata Felix ke wajahnya, matanya melirik Felix seakan meminta persetujuan Felix, Felix tersenyum dan mengangguk. Dengan tidak buru-buru, dimasukkannya kepala senjata Felix ke dalam mulut Tini, Felix terpejam merasakan sensasi bibir Tini sembari mengelus rambut wanita itu, luar biasa… katanya tidak mempunyai pengalaman, tetapi dalam urusan sedot-menyedot… rupanya Tini juga jagonya, bathin Felix, mungkin ini yang dinamakan bakat alam, tanpa dipelajari sudah berjalan secara naluri.

Felix masih bermain dengan pikirannya, sementara Tini mengulum senjatanya. Sosok Tini di mata Felix seolah tidak bedanya dengan cewek-cewek kencannya, tetapi Tini mempunyai nilai plus. Di samping Tini hanya seorang tukang jamu, tetapi dalam merawat tubuh tidaklah kalah dengan cewek kuliahan, Kulit Tini putih bersih dengan bulu-bulu halus di sekujut tubuhnya, ketiak yang tidak dicukur tetapi rapi memberi kesan tidak jorok, sementara bulu kemaluan yang lebat sampai ke belakang. bandar sabung ayam

Felix terhenyak melihat Tini terbangun dari kulumannya di senjata Felix. “Kenapa mbak?” tanya Aton, “Pegel mas mulutku, habis gede banget sih senjatanya” senyum Tini malu-malu. “Oke, sekarang mbak tiduran, aku masukin ya senjataku ke pepek embak” kata Felix. Tanpa perlu menjawab, Tini merebahkan tubuhnya memasang posisi, kemudian Felix mulai menusukkan senjatanya kedalam kenikmatan Tini.

“Auuu… pelan-pelan ya masss… masukinnya… maklum dah lama gak di pake?” meringis Tini merasakan moncong senjata Felix memasuki lubang memeknya. Setelah di rasa cukup masuk dan menyesuaikan di dalam lobang kenikmatan Tini, mulailah Felix memaju-mundurkan senjatanya.
“Ssshhh… enaaak masss… terusss… yang dalammm masss…”erang Tini keenakan. Felix mulai berkeringat, walau udara di kamar sebetulnya cukup dingin, mungkin karena jamu yang diminum tadi sudah bereaksi.
“Gila nih lobangnya mbak… adikku kamu jepit pake apa sih mbak” kata Felix disela aktifitasnya memaju mundurkan senjatanya,
“Ah… mas Felix ini lho.. sempet-sempetnya bercanda… enggak kok mas… barangku enggak ada alatnya… cuman bisa njepit aja” bangga Tini.
“Ini yang dinamakan orang ‘Empot Ayam’ ramuan Madura… khan ada jamunya juga mbak” kata Felix.
“Iya mas… aku rajin minum juga… cuman gak tau namanya apa… soalnya itu jamu warisan nenekku yang memang masih ada keturunan Madura…” jawab Tini sembari merasakan sensasi kembali.

“Accchhh… masss… aku moo pippiisss lagiii… aahhh…” untuk kedua kalinya Tini melenguh panjang, pertanda telah sampai orgasme nya yang kedua.

Dijepitnya pinggang Felix… dipeluknya dada Felix, seolah mau melumat tubuh kurus Felix, Felix sedikit meringis merasakan jepitan kaki Tini dan pelukan tangan Tini di tubuhnya, tetapi Felix mengerti akan kenikmatan Tini, maka dibiarkannya wanita itu menjepit tubuhnya. Setelah beberapa saat Felix memberi waktu untuk Tini mengembalikan nafas liarnya, ia berinisiatif untuk merubah gaya, disuruhnya Tini untuk nungging membelakanginya, Felix melakukan dogy style. Inipun sensasi lain yang dirasakan Tini, baru dengan Felix ini ia merasakan indahnya persetubuhan.

Felix pun merasakan sensasi lain dari jepitan lubang Tini, dengan posisi ini, lubang kemaluan Tini semakin dirasakan sempit, sedikit mengalami kesulitan bagi Felix untuk memaju-mundurkan senjatanya, walau lubang Tini sudah sedemikian basahnya akibat orgasme Tini tadi.

Tangan Felix memegang pinggul Tini, sedangkan Tini memeluk bantal sembari mengerang kenikmatan,

“tusuk yang dalammm… masss… ssshhh….

Akhirnya Felix memacu semakin cepat dengan tujuan untuk mencapai puncak kenikmatan bersamaan, kali ini. “Masss… pippiiisss… lagi nihhh akuuu…” desak Tini,

“sabar sayang… mas juga mau keluar nihhh… ayuuukkk… aaahhh… Naaahhh” lenguh Felix. demikian juga Tini yang semakin liar memeluk serta menggigit sarung Aton,
“aaacchh… emmmhhh… enghhh… masss…” agen bola terpercaya

Keduanya terkapar di kasur dengan deru nafas yang saling berlomba, Tini memeluk Felix, Felix membelai rambut lurus Tini. Mereka saling mendekap, berpagutan, disela deru nafas mereka berdua, hujan deras di luar. Tetapi di dalam kamar telah terjadi kehangatan yang dahsyat. “Mbak, gimana rasannya dengan gaya kayak barusan tadi?” tanya Felix memulai pembicaraan.

“Sungguh mas, baru kali ini saya merasakannya dan ternyata luar biasa, seperti pengen mengulang terus dan terus” jawab lugu Tini.
“ha… ha… ha… kayak iklan aja nih…” gelak Felix.
“Kalo mas Felix udah berapa cewek yang mas Felix puasin?” selidik Tini sembari memainkan puting susu Felix,
“Hemm… berapa ya…” jawab Felix seolah berpikir,
“tau ah… saking banyaknya”. “dasar laki-laki buaya” geram Tini sembari mencubit dada Felix.
“Trus… kebanyakan cewek-cewek itu juga puas mas…?” tanya Tini sedikit cemburu,
“seperti jawabanmu bila kamu di tanya sama orang, pasti jawabannya… Luar Biasaaa…” jawab Felix geli sembari mencubit mesra hidung Tini.
“Mas Felix gak punya cewek yang diseriusin ya?” kejar Tini lagi, “mana ada yang bisa serius dengan aku… kebanyakan cewek yang deket sama aku juga paling-paling minta dipuasin nafsunya” elak Felix.
“Nakal ya mas Felix ini…” gemes Tini sembari mencubit senjata Felix.
“Ha… ha… ha… memang itu yang mereka inginkan.. kebanyakan mereka nggak kangen sama aku,,, tetapi kangen sama burungku… ha.. ha… ha… canda Felix sambil terkekeh renyah.
“tapi suatu saat nanti… pasti lah aku cari pendamping yang setia… mungkin seperti kamu mbak… selain manis, putih, pintar memijit dan piawai dibidang jepit-menjepit…” aku Felix sembari memeluk dan mengelitik payudara Tini.

“Gombal…” jawab Tini sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan kelitikan Felix yang sengaja menyenggol payudaranya.
“Mas… aku ke kamar mandi dulu ya, lengket rasa sekujur tubuh nih… pinjam handuknya boleh mas? tanya Tini sembari bangkit menuju kamar mandi, “Tuh di depan kamar mandi… handukku warna merah” jawab Felix.

Memang diakui Felix bahwa jamu ramuan mbak Tini memang terbukti khasiatnya, Felix merasa cairan yang dikeluarkannya begitu banyak dan kental, serta pegal-pegal di badannya seketika hilang tak dirasa. Entah membayangkan sensasi apa yang ada dalam tubuh Tini, Felix merasa senjatanya bangkit berdiri kembali, gila nih jamu… dah minta jatah lagi adik gua.

Felix bangkit dari tidurannya dihampirinya Tini yang sedang berada di kamar mandi,

“lho… kok gak ditutup pintunya mbak?” tanya Aton geli dan melihat Tini sedang jongkok mengguyur air di sekujur tubuh mulusnya.
“Katanya gak ada orang… makanya gak aku tutup pintunya, lho… kok sudah mengacung lagi mas senjatanya?” goda Tini sembari melihat kemaluan Felix yang tegak berdiri.
“Iya nih… tanggung jawab lho mbak… gara-gara jamunya nih… adikku minta jatah lagi” protes Felix.
“Aduh kacian… sini-sini mbak angetin…” bujuk Tini sembari meraih kemaluan Felix dan segera dikulumnya.
“Ahhh… sssttt… enak mbak” lenguh Felix sembari mengelus rambut Tini, slruuup… slruup… ck..ck..ck.. bunyi mulut Tini terganjal kemaluan Felix. agen judi online terpercaya

Setelah beberapa saat dirasa cukup oleh Felix, dipegangnya pundak Tini, dibimbingnya Tini untuk berdiri, kemudian diputarnya tubuh Tini membelakanginya, dengan tubuh basah Tini, Felix memeluk Tini dari belakang. Dicumbunya leher wanita itu dan dijilatnya rambut kalong Tini, sementara kedua tangannya menyusup dari bawah ketiak Tini dan menuju kedua bukit kembar Tini.

Tini merasa tersanjung, diangkatnya kedua tangannya dan dipegangnya kepala Felix sembari melenguh kegelian “Masss… ennaaakk… ssshhh… geliii masss…” Puting susu Tini mengencang, mengeras disela jemari Felix. Dia memang lelaki hebat yang bisa memanjakan wanita kagum hati Tini serasa melambung ke langit ke tujuh belas… “Mbak… coba membungkuk sedikit… pegangan di bibir bak mandi… kakinya direnggangkan sedikit ya sayang” pinta Felix yang dituruti Tini dengan sedikit bingung. Kemudian Felix jongkok di belakang Tini, kedua tangan Felix meraba pantat Tini dan membelahnya layaknya membelah durian tetapi perlahan dengan perasaan.

Kemudian Tini menjerit kecil, setelah dirasa ada benda basah tetapi hangat menyentuh lubang duburnya, ditengoknya kebelakang, ternyata Felix sedang bermain lidah di lubang duburnya. Tini kaget, tetapi menikmati sensasi lain yang tak kalah luar biasanya, Tini merasa geli yang tidak tertahan tetapi nikmat, dengan tidak sengaja Tini menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan karena kegelian.

Ceplak… cepluk… bunyi lidah Felix menjilati lubang dubur Tini yang diselingi turun ke arah lubang kenikmatan Tini yang sudah terlanjur banjir. Tanpa di sadari Felix, tangan kanan Tini berpindah ke selangkangannya sendiri, dipijitnya klitoris Tini sendiri.

“Masss… enaakk… masss… emmmhhh… ” erang Tini sembari menggigit bibir. Kemudian Felix bangkit berdiri, diciumnya bibir Tini dari samping sembari berkata
“Enak mbak… emmmhhh…”, “Enaakkk masss… jawab Tini malas. Kemudian Felix kembali ke belakang Tini,
perlahan tapi pasti dimasukkannya kemaluan Felix ke lobang kenikmatan Tini. bandar bola terpercaya
“Ssshhh… masss… yang dalaaamm yahhh…” rintih Tini masih dengan posisi setengah terbungkuk.

Plok… plok… plok… bunyi suara maju mundur Felix memompa yang mengenai pantat Tini membuat suasana menjadi semakin panas., sekarang dengan bercampurnya lend*r kenikmatan Tini dan air dari bak mandi, dirasa Felix tidak begitu sulit seperti tadi di kamar tidur.

Hujan di luar kosan masih deras… sehingga erangan Tini tidak begitu terdengar, kalah dengan derasnya hujan yang turun di atas kamar mandi yg tertutup seng. Irama jatuhnya hujan di atas seng, teriakan nikmat Tini semakin menambah irama Felix dalam memacu tusukan senjatanya pada lubang memeknya Tini, Tini semakin liar bergoyang, ke kiri ke kanan, ke atas bawah, kadang membuat gerakan memutar seolah memeras kejantanan Felix.

“Masss… Tiniii nyampeee lagiii masss… ssshhh… aaahhh” lenguh Tini mencapai klimaksnya. Felix menarik erat pinggul Tini, didorongkannya kemaluan Felix ke dasar lubang Tini semakin dalam sembari ditahan di dalamnya sembari dirasakan beberapa kedutan liang kenikmatan Tini yang berkontrasi meluapkan gairah orgasmenya, benar-benar empot ayam nih cewek… sorak hati Felix, Tini KO keempat kalinya.

Dicabutnya batang kemaluan Felix, dan sekarang posisi bergantian. Felix duduk di tepi bak mandi, sementara Tini jongkok di hadapan Felix. Kemudian Tini memasukkan kemaluan Felix ke dalam mulutnya,

mengulumnya dan memaju-mundurkan batang kemaluan Felix. Tini marasa kondisi Felix tak lama lagi mendekati klimaks, Tini mau memberi service dengan tetap mengulum kemaluan Felix serta membiarkan Felix mengeluarkan orgasmenya didalam mulutnya, dan “achhh… ssstttt… mmmbaaakhh… aagghhh… aku keluaaarrr…” dengus Felix mencapai puncak, sembari memegang kepala Tini serta mengacak-acak rambutnya, senjata Felix tetap di dalam mulut Tini, hingga tetes mani terakhir dan langsung ditelannya.

Sensasi luar biasa dirasakan Felix sembari melihat bagaimana Tini mengulum penisnya seperti seorang anak kecil mendapat sepotong es krim kesukaannya. Setelah beberapa saat, di sela nafas yang muali teratur, Felix bertanya kepada Tini “Enak mbak…?”, “he-eh… asin tapi gurih mas…” senyum Tini puas sembari membersihkan sisa sisa lend*r dengan lidahnya di sekitar batang kemaluan Felix dan menelannya.

“Baru ini pula aku merasakan sperma laki-laki, ternyata gurih ya mas ya…” pengakuan Tini sembari terus mengelus dan memijit batang kemaluan Felix. Setelah selesai keduanya membasahkan tubuh masing, saling menggosok, meraba dan membersihkan cairan sabunnya. bandar judi online

Keluar dari kamar mandi, Tini menuju meja rias di dalam kamar Felix, sementara Felix berjalan ke dapur guna memasak air untuk membuat teh manis hangat. Sesekali diliriknya Tini dari dapur ke dalam kamar, Tini duduk membelakangi Felix sembari mengeringkan rambut dengan handuk tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh sintalnya. Melihat pemandangan itu, Felix terpana dari tempatnya membuat teh, gila perfect banget tuh body batin hatinya, orang gak akan nyangka bahwa tukang jamu memiliki body yang aduhai, apalagi barangnya… bisa memijit pula… mungkin karena setiap hari berjalan dan membawa beban di punggung, yang tanpa disadari sudah merupakan olah raga sex… masih dalam pikiran Felix melihat pemandangan Tini dari belakang.

“Mbak… nih teh hangatnya… aku cuman bikin satu buat kita berdua ya… biar tambah mesra… bukannya pelit lho” canda Felix sembari membawa teh hangat yang diletakkan di atas meja rias. Felix meraih kursi dan duduk di sebelah meja rias yang sedang dipakai Tini untuk mengeringkan rambut, dipandanginya Tini dari sisinya duduk. “Ah… mas… kok ngeliatin Tini terus sih… Tini kan malu…” celoteh Tini manja sembari mencubit pipi Felix. Felix hanya tersenyum dan mendekati bibir wanita itu serta mengecupnya dengan mesra. Ketika Tini menyisir rambutnya, otomatis siku tangannya terangkat ke atas dan memperlihatkan ketiak Tini yang ditumbuhi bulu tetapi tidak lebat sehingga tidak memberi kesan jorok. Felix meraih ketiak Tini, dielusnya bulu-bulunya, “gak pernah dicukur ya mbak”. “Mana sempet mas… gak ada waktu ngurusin diri” bela Tini.

Felix kembali memperhatikan Tini menyisir rambutnya, begitu pandangan Felix ke bawah, dilihatnya payudara Indah bergoyang ke kiri kanan, menambah pemandangan menjadi panas kembali. “Mbak… adikku bangkit lagi nih…” bisik Felix sembari memberi kode liwat tatapannya ke arah kemaluannya. “Ihhhh… tuh kan… baru percaya sama ramuan jamuku…” gemas Tini sembari mencubit dan mengelus kemaluan Felix. “Gimana kalo mau minta jatah lagi” harap Felix, “Aduh… khan udah mandi mas, lagian aku capek banget nih sampe berasa copot semua tulangku mas” elak Tini. Tetapi Tini bangkit dan berjongkok di depan Felix, “Ya deh… ini tanggung jawabku… aku kulum lagi aja ya mas… kasian klo gak bisa tersalur” jawab Tini memberi solusi.

Felix hanya tersenyum sembari melihat lagi Tini mengulum kemaluannya, dielusnya rambut Tini. Tini memang cepat bisa, sedotannya membuat Felix tidak dapat bertahan lama, dan memang ini yang dimaui Felix, karena ia berpikir bila hanya dia yang bermain tidaklah terlalu nyaman. “Mbak… achhh…” jerit Felix mengiringi orgasmenya kali ini yang seperti tadi langsung ditelan habis Tini.

“Kok cepet keluarnya sekarang mas?” tanya Tini tersenyum. “Sengaja, habis klo main sendiri gak enak lah rasanya, makanya aku kosentrasi supaya cepet keluar” bela Felix. “He… he… he… khan masih ada besok lagi mas…” kata Tini sembari membersihkan kemaluan Felix dengan tisu yang berada di atas meja tersebut, sembari mencium mesra pipi Felix.

“Udah… tidur sini aja mbak, aku kelonin deh” rayu Felix melihat Tini mulai memakai bra kain dan kebayanya setelah dia membersihkan diri di kamar mandi sekali lagi. “Endak ah mas… gak enak sama teman kos saya” jawab Tini mengelak ajakan Felix. “Tapi besok… kalo saya kangen sama mas.. boleh ya saya main ke sini…” pinta Tini memelas, “Oke aja… kalo pas saya ada di kosan, biasanya sih suka keluyuran” jawab Felix seenaknya. “Sekarang saya tinggalin lagi jamunya ya mas, siapa tau ada yang butuh kehangatan mas Felix lagi he… he… he…” canda Tini setelah dia selesai memakai semua pakaiannya sembari mengangkat bakul berisi jamunya.

“Berapa semuanya mbak…?” tanya Felix sembari membuka dompet untuk membayarnya. “Sudah mas… saya kasih gratis… soalnya saya sudah dapat kepuasan yang selama ini gak saya dapetin” tolak Tini halus, “Yang bener nih mbak… mosok dah disuruh ngerokin sama ngelonin… kok gak mau di kasih uang sih?” protes Felix. “Alaaahh… saya tau kFelixg Mahasiswa… paling juga recehan doang isinya… ha… becanda lho mas… serius kok mas… aku yang terima kasih… mas Felix bisa mengerti perasaan wanita, salam aja ya mas buat temen kencan mas yang lain” goda Tini sembari pamitan keluar kamar. casino online

“Eh… sebentar mbak!” seru Felix setelah memakai kain sarungnya kembali, Tini berhenti, kemudian Felix mendekati Tini memeluk wanita itu dan memberi kecupan lembut di bibir Tini sembari menyelipkan sejumlah uang ke dalam bra Tini dan berkata “Sekali ini jangan menolak ya mbak… saya bersalah jika tidak memberi ini mohon jangan anggap sebagai imbalan jasa… tetapi rasa sayang saya dan sebagai rasa terima kasih buat embak”.

Tini terpaku dan menatap Felix, tak dinyananya bahwa lelaki ini selain ganteng, pemberi kepuasan dan baik hati terhadap wanita, ah… seandainya…. Tini tidak mampu melanjutkan impiannya yang dianggap mustahil bagi dirinya, tak terasa menetes air mata harunya. Felix mengusap air mata Tini dan mengecup kening Tini, “Sudah ya sayang… gak usah nangis… semoga besok kita bisa lebih panas lagi” goda Felix menghibur Tini. “Ma kasih ya mas” pamit Tini meninggalkan kos-kosan Felix.

Felix terpaku melepas kepergian Tini, hujan baru saja berhenti, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, gila dari jam lima sore tadi kita berdua main bathin Felix. Tetapi Felix merasa klo tubuhnya dalam kondisi puncak, dahsyat sekali ramuan mbak jamu tadi ya pikir Felix, besok kalau bertemu, aku akan minta lagi ah, pikir Felix sembari menutup pintu kos-kosan dan kembali ke kamarnya untuk tidur.

Susah dapat bonus dari web lain ? Coba gabung aja di JBMBET! Proses depo dan withdraw cepat :) Selalu bisa bekerja sama dengan member :) Bonus gampang didapatkan :)
Tunggu apa lagi ? Gabung di JBMBET

Cerita Sex,Cerita Bokep,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pemerkosaan,Cerita Sex ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Bikin Sange.Cerita Tante Girang,Cerita Dewasa,Cerita Panas,Crita Nentot SPG,Cerita Sex Pramugari

0 komentar:

JBM